RSS

KARTIKA RATNA SARI W_TUGAS 4 (KASUS BHOPAL)_4EB12

KELOMPOK 9

Nama :
  1. Kartika Ratna Sari W  (24212034)
  2. Shintya Permatasari   (26212989)
  3. Wiwiek Widyastuti      (28212175)

Kelas            : 4EB12
Mata Kuliah   : Etika Profesi Akuntansi


Bencana di Bhopal

Pada suatu malam tanggal 2 Desember 1984, sebuah kebocoran terjadi di tangki penyimpanan di pabrik kimia Union Carbide, Bhopal, India. Tengki tersebut berisi 10.000 galon Metil Isosianat (MIC),  zat kimia yang sangat beracun yang dapat digunakan dalam pembuatan pestisida seperti Sevin. Kebocoran yang terjadi menimbulkan awan gas beracun di atas lingkungan kumuh di sekitar pabrik Bhopal itu menyebabkan kematian lebih dari 2000 orang dan melukai 200.000 orang.

kebocoran ini disebabkan oleh air yang tanpa sengaja tertuang ke tengki. Air bereaksi sangat cepat dengan MIC yang menyebabkan pemanasan cairan. Di bhopal. campuran air dan MIC tersebut meningkatkan suhu cairan di dalam tengki. Ketika tekanan internal ini menjadi cukup tinggi katup pelepasan tekananpun terluka dan uap MIC tercampur ke udara.

Seperti kebanyakan bencana dan kecelakaan, tidak hanya satu kejadian yang menyebabkan bencana, tetapi ada beberapa faktor yang ikut menimbulkan kecelakaan ini. Semua faktor ini jika berdiri sendiri mungkin menyebabkan kecelakaan. Gabungan semua faktor itu membuat kecelakaan terhindar dan konsekuensinya sangat buruk. Faktor utama dalam kecelakaan ini adalah pemotongan anggaran pemeliharaan sebagai bagian dari upaya pemotongan biaya. Tengki penyimpanan MIC mempunyai unit pendingin yang terpasang yang seharusnya membantu mempertahankan suhu tengki agar lebih mendekati normal, bahkan dengan air yang ditambahkan dan mungkin dapat mencegah penguapan pencairan. Meskipun demikian unit pendingin ini berhenti selama lima bulan sebelum kecelakaan terjadi dan belum diperbaiki.

Tengki juga dilengkapi dengan alarm yang sehausnya dapat memberikan peringatan para pekerja terhadap suhu yang berbahaya, namun tidak terpasang dengan baik. Pabrik juga dilengkapi dengan menara obor yang dirancang untuk membakar uap sebelum uap memasuki atmosfer dan alat ini setidaknya dapat mengurangi, jika tidak menghilangkan jumlah MIC yang menjangkau lingkungan sekitar. Namun tidak berfungsi dengan baik dan sudah usang. Terakhir alat penyaring gas yang biasanya digunakan untuk menetralisir uap beracun tidak diaktifkan sampai uap berlangsung. Tidak ada satupun alat-alat itu yang beroperasi pada saat kejadian tersebut.

Manajemen pabrik jelas mengabaikan keselamatan. Union Carbide  juga tampak kurang perduli karena tidak menyiapkan rencana untuk memperingatkan dan mengevakuasi penduduk disekitar pabrik pada saat kecelakaan. Rencana seperti itu adalah rencana standar di Amerika Serikat dan sering diwajibkan oleh pemerintah sekitar. Union Carbide tidak dapat mengatakan bahwa kecelakaan seperti itu tidak dapat diperkirakan. Namun, pada akhirnya sebagian kesalahan ditanggung oleh pemerintahan India.

Kesalahan terbesr ditimpahkan kepada Union Carbide karena gagal memberikan pelatihan yang cukup dan gagal mengawasi karyawan India dalam pemeliharaan dan prosedur keselamatan yang diberlakukan di pabrik yang sama di Amerika. Setelah kecelakaan itu terjadi, tuntutan hukum yang jumlah seluruhnya mencapai lebih dari 250 milyar dolar diajukan oleh korban kecelakaan dan Union Carbide  menjanjikan bahwa korban akan mendapatkan kompensasi seumur hidup serta pelatihan kerja. Dan akhirnya, Warren Anderson dituntut pengadilan India atas pebunuhan kriminal (tapi bukan tuntutan sipil).

1. Isu-isu etika yang dibahas dalam kasus ini ?
    Jawab : 
    Isu yang dibahas dari kasus ini adalah :
  • Penggunaan bahan kimian berbahaya yaitu Methyl Isocyanate (MIC) dan penyimpanannya bukan didalam drum.
  • Adanya pipa yang sudah terkorosi.
  • Program Maintenance pertahanan peralatan pabrik yang buruk.
  • kegagalan beberapa system keselamatan pabrik.
  • Penonaktifan beberapa peralatan keselamatan termasuk sistem pendingin Methyl Isocianate (MIC).


2. Apakah pengaruh hukum " Perseroan Terbatas " berlaku untuk melindungi 
    pemegang saham Union Carbide Corporation (U.S) ?
    Jawab :


Berpengaruh atau berlaku. Namun, pemegang saham Union Carbide tidak sepenuhnya dilindungi oleh doktrin hukum perseroan terbatas. Mereka tidak bertanggung jawan atas kematian dan luka-luka yang terjadi karena kebocoran. Tapi, mereka tidak tertutup untuk investasi pribadi mereka di saham perusahaan. Saham jatuh drastis setelah insiden tersebut.


Berdasarkan kasus tersebut para pemegang saham melakukan gugatan kepada Manajer Union Carbide Corporation (U.S) yang telah menyebabkan kerugian sebesar 1 milyar USD. Selain itu, manajer dianggap tidak mampu menghindari risiko yang buruk bagi pemegang saham. Analisis memperkirakan perusahaan akan dipaksa menjadi bangkrut. Pabrik Union Carbide Corporation (U.S) telah kehilangan uang selama beberapa tahun dan Anderson telah mempertimbangkan penutupan itu.


3. Apakah operasinindia, yang sedang diawasi oleh manajer serikat Union 
   Carbide Corporation (U.S) sesuai dengan standar hukum atau moral atau      
    etika 
   Jawab :


Tidak, Manajer Serikat Union Carbide Corporation (U.S) tidak memperhatikan standar hukum, moral ataupun etika. Perusahaan ini tidak memiliki etika moralitas. Etika moralitas merupakan etika yang menyatakan tindakan dianggap baik jika tindakan itu menunjukkan perilaku karakter yang baik (bermoral) dan dianggap buruk jika tindakan itu menunjukkan perilaku karakter buruk (tidak bermoral). Selain itu perusahaan juga melanggar etika enjiniring yang merupakan sebuah profesi yang memiliki kode etik.





Pelanggaran etika tersebut menyebabkan terjadinya Kebocoran pada tangki penyimpanan pabrik kimia Union Carbide Corportion (U.S) di Bhopal, India. Sebanyak lebih dari 2000 orang meninggal dan lebih dari 200.00 orang terluka akibat kebocoran tangki yang berisi 10.000 galon Metil Isosianat (MIC). Faktor Utama dalam kecelakaan ini adalah adanya pemotongan anggaran pemeliharaan sebagai bagian dari upaya pemotongan biaya. Akibat dari pemotongan anggaran pemeliharaan tersebut, Manajemen Mengabaikan Keamanan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Hal ini dapat dilihat dari adanya :
  • Alat peringatan yang tidak terpasang dengan baik.
  • Menara obor yang digunakan untuk membakar uap sebelum memasuki atmosfer yang tidak berfungsi.
  •  Alat penyaring gas untuk menetralisir uap beracun tidak aktif dan sudah usang.
  • Unit pendingin berhenti bekerja selama 5 bulan sebelum kecelakaan terjadi dan belum diperbaiki.
  • Katup yang bocor dalam sitem MIC telah menjadi masalah di Bhopal sebanyak 6 kali sebelum kecelakaan terjadi.
  • Tidak diberikannya pelatihankepada karyawan yang cukup dan Gagal mengawasi karyawan india dalam pemeliharaan dan prosedur keselamatan yang diberlakukan dipabrik yang sama di Amerika.

Berdasarkan keterangan diatas, perusahaan melanggar adanya prinsip etika enjiniring. Prinsip-prinsip yang dilanggar adalah
  •  Tidak melaksanakan tugas sesuai dengan kompetensinya.
  • Tidak berlaku benar, objektif dan menjaga rahasia pekerjaan.
  • Tidak bekerja keras, jujur dan bertanggung jawab.
  • Tidak adanya pelatihan untuk meningkatkan kemampuan.
  •  Tidak adanya upaya untuk  pelestarian lingkungan.


Referensi ;

            Fleddermann, Charles B. 2006. Etika Enjiniring Edisi Kedua. Jakarta : Penerbit Erlangga.

0 komentar:

Posting Komentar